ACHMAD MAIMUN SALING BERSILATURRAHMI DAN MENASEHATI
  • Musibah dalam Perspektif Islam

    Musibah atau sering disebut dengan bala’ merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Sejak dari yang musibah ringan seperti terkena duri, sampai yang berat seperti hilangnya nyawa seseorang. Baik yang sifatnya musibah personal/pribadi maupun jama’i atau massal, seperti gempa, banjir, tsunami dan sebagainya. Banyak orang mencoba menjelaskan musibah tersebut dari sudut pandangnya masing-masing, seorang saintis dipastikan menjelaskannya dari sudut pandang akademik-ilmiah, seorang agamawan juga akan menjelaskan dari sudut pandang keimanannya.

     Pada kesempatan ini penulis, akan menjelaskan musibah dari sudut pandang keimanan karena latar belakang keilmuannya adalah keagamaan Islam. Berikut ini adalah penjelasan tentang musibah dalam perspektif ajaran Islam. Penjelasan ini diharapkan bisa menjadi bahan bagi para pembaca tentang musibah dan bagaimana menyikapinya. Perlu disampaikan bahwa tulisan ini disadur dari situs islamweb.

     1.    Musibah sebagai Penebus Kesalahan atau Penghapus  Dosa  (لنكفير الخطايا)

    Musibah adakalanya sebagai penebus dosa atau kesalahan yang telah dilakukan oleh seorang mukmin. Hal itu bisa jadi karena seseorang terlalu banyak melakukan dosa atau kesalahan karena itu perlu dilakukan penghapusan dosa tersebut. Dengan begitu musibah ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada seorang mukmin. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh sebuah hadits Rasulullah berikut ini.

    ما يصيب المسلم من هم، ولا حزن، ولا وصب، ولا نصب، ولا أذى، حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه. رواه مسلم.

    Artinya: Tidaklah sebuah kedukaan, kesedihan, sakit menahun, keletihan, ataupun hal yang merugikan hingga (misalnya) seseorang terkena duri kecuali Allah akan menutup atau menebus kesalahan atau dosa-dosa orang tersebut dengannya.

    Karena itu meskipun musibah membawa kesengsaraan, akan tetapi bagi seorang mukmin sudah sepatutnya untuk tetap bersabar dan bertawakkal kepada Allah, karena pada prinsipnya dengan musibah tersebut Allah sedang melakukan pencucian atau pembersihan terhadap dirinya.

     2.    Musibah sebagai Pembersih Orang Mukmin dan Pembeda antara Orang Mukmin dari Orang Munafiq   (لتمحيص المؤمنين، وتمييزهم عن المنافقين)

    Ada kalanya pula musibah itu terjadi sebagai media untuk membersihkan orang-orang mukmin dari hal-hal yang tidak baik dan juga sebagai pembeda antara orang mukmin dan orang dhalim. Sebagaimana diberitakan oleh berbagai media, ketika musibah datang, misalnya gempa bumi dan tsunami di Palu, betapa banyak orang melakukan penjarahan bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Akan tetapi lebih dari itu didorong oleh kesakrahan, sehingga ada yang mengambil keuntungan dalam suasana yang sulit itu. Ada yang mempreteli asesoris mobil-mobil yang hanyut, ada yang mengambil roda atau ban mobil dan sebagainya. Itulah perilaku orang-orang dhalim yang berbeda dengan orang mukmin. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam ayat al-Qur’an berikut ini.

    قال تعالى: أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ* وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ [العنكبوت:3]

    Artinya: apakah para manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja untuk mengatakan: ”kami telah beriman” dan kemudian mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta.

    Dengan musibah yang mengenai manusia, maka akan tampak keaslian karakter mereka. Mana yang benar-benar beriman dengan tulus dan mana yang sejatinya adalah orang munafiq. Hanya sayangnya, orang-orang munafiq tidak pernah menyadari akan kemunafikan dirinya. Na’udzubillaahi min dzaalik.

     3.    Musibah sebagai Media untuk Meningkatkan Derajat atau Kualitas Seseorang

    Bagaikan orang yang sedang menempuh pendidikan, untuk naik peringkat atau kelas dia harus mengikuti ujian yang semakin tinggi tingkatannya semakin berat ujiannya. Demikian pula, musibah yang menimpa seseorang adakalanya berfungsi sebagai media untuk menguji seseorang agar meningkat peringkatnya, meningkat derajat ketaqwaannya, meningkat kualitas kepribadiannya dan sebagainya. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah, bahwa manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, disusul dengan para penerusnya. Ujian tersebut tidak lain adalah untuk meninggikan derajat mereka. Rasulullah menjelaskan sebagai berikut.

    عن سعد بن أبي وقاص ـ رضي الله عنه ـ قال: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: “الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ” (رواه النسائي

    Artinya: Dari Sa’d bi Abi Waqash dia berkata: ”Saya berkata, wahai Rasulullah, manusia mana yang paling berat ujiannya?”. Rasulullah bersabda: “Para nabi kemudian manusia-manusia pilihan (fudhala’), maka seseorang itu akan diuji (diberi cobaan berupa musibah) seukur dengan agamanya. Jika seseorang TEGUH beragama maka ujiannya akan menjadi berat, dan jika seseorang LEMAH dalam beragama maka dia akan diuji sesuai dengan kadar keagamannya itu…)

     4.    Musibah sebagai Pemberian Sanksi karena Dosa  

    Selanjutnya dalam perspektif Islam, musibah adakalany turun kepada manusia mukmin sebagai sanksi atas dosa yang dilakukkannya. Rasulullah pernah menjelaskan sebagai berikut:

    إن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه، ولا يرد القدر إلا الدعاء، ولا يزيد العمر إلا البر. رواه أحمد

    Artinya:   Sesungguhnya rezeki seseorang terhalangi oleh perbuatan dosanya, dan takdir Allah itu tidak pernah akan tertolak kecuali dengan do’a, dan umur (seseorang) tidak akan bertambah kecuali dengan (melakukan) kebaikan.

     Di dalam surat al-Baqarah ayat 155 dijelaskan bahwa bentuk musibah itu sangat beragam, ada yang berupa rasa takut, kelaparan, berkurangnya harta, meninggalnya sanak saudara, dan juga yang berbentuk berkurangnya atau hangusnya buah-buahan atau hasil bumi. Perlu diketahui bahwa kenyang, hilangnya rasa takut, harta, utuhnya sanak saudara dan sebagainya itu adalah rezeki dari Allah. Hal-hal itu semua atau rezeki-rezeki itu akan terhalang karena perbuatan dosa seserorang, sebagai sebuah sanksi dari Allah.

    Jika hal itu yang terjadi maka sebagai seorang mukmin kita harus banyak bermuhasabah, beristighfar baik secara individual maupun jama’i sebagai sebuah bangsa, agar musibah tidak selalu datang bertubi-tubi silih berganti kepada bangsa kita seperti saat ini.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menjelaskan bahwa;   

    الدعاء سبب يدفع البلاء، فإذا كان أقوى منه دفعه، وإذا كان سبب البلاء أقوى لم يدفعه، لكن يخففه ويضعفه

    Artinya: Doa itu menjadi sebab tertolaknya musibah, jika kekuatan doa lebih besar dari dahsyatnya musibah, maka doa tersebut akan mampu menolaknya. Jika sebabnya musibah lebih kuat dari doa yang dipanjatkan maka doa tersebut tidak akan dapat menolaknya, akan tetapi hanya akan memperingan dan melemahkan musibah tersebut.

    Karena itu marilah kita perbanyak berbuat baik, menghidari sejauh mungkin perbuatan jelek dan munkar, dan tidak lupa mau mengingatkan sesama untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan agar kita terhindar dari musibah yang tidak kita kehendaki bersama.

     

    Published on November 5, 2018 · Filed under: Uncategorized;
    No Comments

Leave a Reply