ACHMAD MAIMUN SALING BERSILATURRAHMI DAN MENASEHATI
  • Perilaku Manusia dan Keberkahan Sebuah Negeri

    Sebenarnya tulisan ini adalah dialog imajiner diri saya, atau boleh juga disebut sebagai sebuah refleksi setelah saya pulang dari mendampingi jamaah haji tahun 2018. Kebetulan pas sejak saya masih di Makkah dan kemudian setelah pulang ke tanah air, negeri kita tercinta Indonesia bertubi-tubi dilanda banyak bencana yang menyengsarakan banyak orang. Ada gempa di Lombok, ada Gempa, Tsunami dan Likuifasi di Palu, Sigi dan Donggala, gempa lagi di Situbondo, Banjir Bandang di Mandailing Natal dan sebagainya.

    Refleksi saya kira-kira begini, negeri kita tercinta Indonesia ini kaya dengan sumber alam, air melimpah, tanaman dan tetumbuhan apa saja bisa hidup, bahkan tongkat dan kayu bisa jadi tanaman, seperti lagunya Koes Plus. Akan tetapi mengapa negeri yang begitu kaya dengan segala hal ini, kurang mendatangkan berkah bagi penduduknya. Ini bisa dilihat misalnya, kekayaan sumber daya alam yang begitu melimpah akan tetapi penduduknya banyak yang hidup dalam kekurangan, banyak sekali anak-anak jalanan dan pengemis di jalan-jalan, anak-anak Yatim belum banyak yang terurus, baik oleh negara maupun oleh masyarakat. Selain itu, misalnya sebagaimana telah saya singgung di atas, ada gempa, tsunami, banjir, tanah longsor, kekeringan dan sebagainya. Ini tentu saja harus dipahami dari sudut pandang keimanan bukan akademik ilmiah. Karena dilihat dari sudut pandang keimanan, maka apa saja dilihatnya dengan dan terbawa-bawa oleh sudut pandang iman.

    Saya tidak tahu mengapa dialog imajiner saya itu mengarahkan dan mengerucut pada perilaku-perilaku dosa seperti bangsa dan pemimpin pemerintahan di negeri ini. Seperti korupsi, suap-menyuap dan perilaku-perilaku dosa lainnya. Selain itu, saya juga tidak tahu mengapa dialog imajiner saya mengarah pula pada perilaku mubadzir penduduk negeri ini. Apa itu? Kebiasaan merokok.

    Jika saya bandingkan dengan beberapa negara yang pernah saya kunjungi, kebiasaan mubadzir melalui aktivitas merokok ini tampaknya penduduk Indonesia menempati urutan pertama dalam hal mubadzirnya. Saya pernah ke Malaysia, Singaopore, Sabah, Myanmar, China, Vienna, dan Saudi Arabia, di negara-negara tersebut kegiatan mubadzir merokok itu ada, tapi tidak seheboh di Indonesia. Apalagi di kota Makkah dan Madinah, amat sangat jarang sekali kita bisa ketemu orang merokok, kalau toh ketemu orang merokok, bisa jadi tiga hari sekali pun tidak banyak. Hal ini beda dengan penduduk kita Indonesia, hampir tidak ada tempat yang sepi dari aktivitas merokok, di terminal, di sekolah, di jalan-jalan, di poskamling, di toilet bahkan di masjid sekalipun banyak orang merokok. Sebelum dilanjutkan, dialog imajiner ini tidak menyoal hukum rokok halal apa haram, karena memang tidak ada dalil yang secara tegas menyebut rokok itu haram apa halal, dan juga tidak dalam rangka mendiskreditkan orang merokok. Jadi terlepas dari itu semua, dan ini juga tidak untuk bahan debat, wong namanya juga refleksi hanya dialog imajiner saja. Tidak tahu kenapa, saya kemudian mencoba menghitung-hitung uang yang mubadzir dibakar dalam bentuk rokok itu. Saya mulai menghitung dalam dialog imajiner itu yakni perokok di kampus.

    Ambil contoh umpama di suatu kampus yang tidak besar, dengan jumlah mahasiswa kira-kira 12 ribuan mahasiswa. Yang merokok biasanya laki-laki baik mahasiswa maupun dosen dan karyawan. Taruhlah jumlah mahasiswa laki-laki 4000 orang, dan yang merokok 1500 orang sudah dengan dosen dan karyawannya. Taruhlah 1500 orang tersebut setiap hari hanya merokok 1 batang saja, maka ada 1500 batang rokok yang dibakar. Jika hara rokok 1 batang Rp. 1500 maka setiap harinya uang yang dibakar sebesar kurang lebih 2.250.000,-, dua juta dua ratus lima puluh ribu rupiah setiap hari dibakar di kampus. Kalau kita kalikan 30 hari untuk setiap bulannya, maka ada Rp. 67.500.000,- uang yang dibakar. Wow…uang yang sangat besar sekali, itu baru dari satu kampus kecil. Bagaimana kalau hitungan itu diterapkan untuk satu kota, satu propinsi dan satu negara Indonesia tercinta ini. Ruarrr biasa besar uang yang dibakar mubadzir.

    Masalahnya begini, kebetulan walaupun kecil-kecilan saya dan teman-teman dikampung itu tiap bulan mengadakan kumpulan dalam rangka mengumpulkan donasi untuk anak-anak yatim di desa saya Sruwen dan sekitarnya. Jumlah anak yatim di desa saya itu kurang lebih, ada 60 sd 70 orang, tapi kami pengurus baru bisa memberi uang jajan kepada 33 anak yatim itupun tidak banyak, hanya 100 ribu rupiah per bulan per anak. Jadi tiap bulan kami para pengurus harus mengumpulkan uang dari masyarakat kurang lebih 3 sd 4 juta. Selain itu kami juga membeli sawah khusus untuk anak-anak yatim. Ada dua petak sudah terbeli seharga kurang lebih 115 juta. Kurang lebih 2.5 tahun kami baru bisa melunasi pembelian sawah tersebut, itupun harus hutang sana dan sini. Sekarang juga sedang beli sawah lagi untuk anak-anak yatim harganya 125 juta, kami para pengurus juga harus hutang ke sana-kemari, dan belum tahu kapan bisa membayar hutang tersebut. Sampai di sini kira-kira sudah bisa dirasakan betapa ada hal yang menjadikan negeri kita kurang berkah.

    Coba kita hitung, jika uang rokok sebulan 67.500.000,- di kampus  tadi dialihkan untuk menyantuni anak-anak yatim, berapa banyak anak yatim tersantuni. Atau jika uang tersebut untuk membayar sawah anak yatim, tidak samapai dua bulan sawah anak yatim akan terbayar lunas. Memang kalau dihitung kadang-kadang membuat sesak di dada mengapa kondisinya bisa begini. Sementara itu, anak-anak yatim hidup serba dalam keterbatasan dan kesulitan yang tidak tahu kapan berakhirnya. akan tetapi di sebelahnya banyak orang yang hanya membakar uangnya menjadi asap yang tiada guna.

    Jika kita kembalikan kepada pesan Islam, innal mubadzdziriina kaanu ikhwanas syayatiin, orang-orang yang memubadzirkan barang itu temannya syaitan. Bagaimana berteman dengan syaitan akan mendatangkan keberkahan? itu di satu sisi, sementara di sisi yang lain betepa banyak anak-anak yatim yang belum terurus oleh kita dan seharusnya bisa diurus dengan uang rokok yang dibakar tadi? Maka di sisi yang lain, bisa masuk dalam penjelasan surat al-Maun.

    Akhirnya dialog imajiner saya ini berakhir dengan simpulan yang tidak mengenakkan, jika kondisi perilaku mubadzir ini masih terus berjalan, sementara itu anak-anak Yatim masih belum terurus dengan baik, saya meyakini  selama itu pula keberkahan tampaknya tidak turun ke penduduk negeri ini. Apalagi jika kita lihat perilaku-perilaku dosa seperti korupsi, suap menyuap masih subur di negeri ini.

    Wallahul musta’aan…

    Published on October 17, 2018 · Filed under: Uncategorized;
    No Comments

Leave a Reply