ACHMAD MAIMUN

SALING BERSILATURRAHMI DAN MENASEHATI


  • Asslamu’aliakum, w.w.

    Sehubungan dengan adanya undangan Ujian promosi doktor Ibu Peni Susapti di UNY, pada Selasa, 23 April 2019 maka perkuliahan (microteaching) pada hari tersebut ditiadakan. Demikian semoga menjadi maklum adanya.

    Wassalamu’alaikum, w.w.

    Dosen

    Achmad Maimun

    Comments Off on PENGUMUMAN LIBUR KULIAH HARI SELASA, 23 APRIL 2019
  • Assalamualaikum, w.w.

    Diberitahukan kepada para mahasiswa bahwa karena pada hari Rabu s.d. Jum’at, 13-15 Maret 2019 saya ada tugas menguji UKin PPG di MI Kutowinangun, maka perkuliahan di hari tersebut, ditiadakan dan akan dicarikan pengganti di hari lain.

    Demikian mohon maklum adanya

    Wassalamu’alaikum, w.w.

    Comments Off on PENGUMUMAN LIBUR KULIAH MAKUL YANG DIAMPU OLEH DOSEN ACHMAD MAIMUN, RABU DAN KAMIS, 13-14 MARET 2019
  • Dalam Q.S. al-An’am [6]:125 dijelaskan bahwa orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan petunjuk atau hidayah, maka akan dilapangkan dadanya oleh Allah. Para ulama tafsir ketika menjelaskan ayat tersebut mengutip beberapa hadits, salah satu di antaranya berisi tentang dialog Rasulullah dengan shahabat mengenai ayat tersebut. Dalam fragmen dialog tersebut shahabat bertanya dalam rangka meminta Penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan kelapangan hati tersebut.

    Imam al-Qurtubiy dalam kitab tafsirnya menguti hadits dimaksud sebagai berikut:

    وروي أن عبد الله بن مسعود قال : يا رسول الله ، وهل ينشرح الصدر ؟ فقال : نعم يدخل القلب نور . فقال : وهل لذلك من علامة ؟ فقال صلى الله عليه وسلم : التجافي عن دار الغرور والإنابة إلى دار الخلود والاستعداد للموت قبل نزول الموت

    Maksud dari hadits tersebut kurang lebih sebagai berikut; Ibn Masud berkata: Wahai Rasulullah apakah dada (hati) itu bisa dilapangkan?. Kemudian Rasulullah bersabda: Iya. Ibn Masud berkata lagi: Apakah ada tandanya (hati yang dilapangkan itu)? Kemudian Rasulullah bersabda: (tanda hati yang dilapangkan) berpaling dari kehidupan dunia,  berorientasi pada kehidupan akhirat, dan mempersiapkan kematian sebelum kematian itu dating.

    Kutipan hadits di atas sangat jelas meberikan rambu-rambu atau ukuran, yang bisa kita gunakan untuk menilai apakah diri kita termasuk golongan orang-orang yang dilapangkan dadanya atau tidak. Jika dilapangkan dadanya artinya kita senantiasa mendapatkan hidayah dari Allah dalam mengarungi kehidupan ini, sehingga hidup kita akan selamat tidak hanya di dunia akan tetapi juga di akhirat kelak.

    Ukuran dilapangkan dada atau hati kita itu tiga hal di atas, yakni hidup kita tidak dibelenggu oleh kepentingan duniawi, kepentingan politik sesaat, kepentingan golongan dan sebagainya. Dunia ini tidak boleh menguasai diri kita akan tetapi kita lah yang harus mengatur dunia ini. Kedua, orientasi hidup kita selalu akhirat, ukuran-ukuran untung dan rugi selalu dikaitkan dengan keuntungan dan kerugian akhirat. Dan tanda terakhir, kita senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian dan mencari bekal di alam setelah kematian itu.

    Jika ketiga tanda atau indikator tersebut sudah melekat pada diri kita, maka bersyukurlah kita kepada Allah. Karena kita yakin bahwa hidayah Allah akan senantiasa menyertai kita.

    Comments Off on Tanda-tanda Orang yang Dilapangkan Hatinya
  • Kepada
    Yth. Mahasiswa PKKI yang mengambil Makul PKN

    Assalamu’alaikum w.w.

    Untuk Ujian Akhir Semester Mata Kuliah PKN Program Kelas Khusus Internasional, mahasiswa diwajibkan membuat paper dengan mengambil tema tentang problematika kebangsaan Indonesia. Struktur pembahasan paper sebagai berikut:

    A. Problematika
    Uraikan latar belakang problemnya, ada baiknya didukung data di lapangan, kemudian rumuskan problematikanya apa
    B. Analisis Faktor-faktor Penyebab
    Uraikan penyebab yang menjadikan problematika tersebut muncul. Jangan lupa sertakan referensi pendukungnya
    C. Tawaran Solusi
    Temukan solusi dari problematika tersebut, akan lebih baik jika mahasiswa mendukung tawawan solusinya dengan mengemukakan teori yang sesuai.
    D. Simpulan

    Masing-masing huruf tersebut di atas bisa diuraikan menjadi beberapa sub, sesuai dengan pemikiran mahasiswa.
    Jangan lupa ditulis dengan bahasa Inggris atau Arab. dikumpulkan paling lambat tanggal 27 Desember 2018 di meja depan ruang kerja saya.
    Demikian terima kasih
    Wassalam

    NB. Kuliah besuk pagi Selasa, 18 Des 2018 ditiadakan

    Comments Off on Pengumuman UAS Makul PKN
  • Kepada
    Yth. Mahasiswa yang ikut Makul Etika Profesi Keguruan
    dan Pengembangan Tafsir Tarbawiy dengan Dosen Achmad Maimun

    Assalamu’alaikum w.w.
    Sehubungan dengan Pelaksanaan Ujian Akhir Semester mata kuliah Etika Profesi Keguruan dan Pengembangan Tafsir Tarbawiy, berikut ini saya sampaikan Jadwal Pelaksanaan UAS dimaksud:
    1. Makul Etika Profesi Keguruan Kelas K, dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Des 2018 pukul 07.00 s.d 08.40
    2. Makul Etika Profesi Keguruan Kelas J, dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Des 2018 pukul 08.40 s.d 10.20
    3. Makul Etika Profesi Keguruan Kelas L, dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Des 2018 pukul 10.20 s.d 11.45
    4. Makul Etika Profesi Keguruan Kelas I, dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Des 2018 pukul 12.20 s.d 14.20
    5. Makul Pengembangan Tafsir Tarbawiy Kelas A, dilaksanakan pada hari Jumat, 28 Des 2018 pukul 07 s.d 08.40
    6. Makul Pengembangan Tafsir Tarbawiy Kelas B, dilaksanakan pada hari Jumat, 28 Des 2018 pukul 08.40 s.d 10.20
    untuk UAS Etika Profesi Perkuliahan mahasiswa dipersilakan memilih 5 materi untuk dikuasai kemudian diuraikan di saat Pelaksanaan Ujian. Uraiannya secara lengkap dan detail. Sedangkan untuk Makul Pengembangan Tafsir Tarbawiy, UAS nya mahasiswa bisa memilih 4 materi yang telah dibahas untuk kemudian diuraikan sendiri di dalam Ujian, secara lengkap dan detail.

    Demikian pemberitahuan Ujian ini semuga menjadikan maklum adanya.
    Wassalam

    2 Comments
  • Diberitahukan kepada mahasiswa yang mengikuti perkuliahan yang saya ampu pada hari Rabu, 12 Des 2018, bahwa seluruh perkuliahan pada hari tersebut ditiadakan. Karena saya ada acara menghadiri ujian promosi doktor Bpk. Drs. A. Bahrudin, M.Ag. di UIN Sunanan Kalijaga Yogyakarta.
    Demikian pengumuman ini semoga menjadi maklum adanya.

    NB. Untuk UAS mata kuliah saya, akan saya informasikan melalui blog ini juga. Oleh karena itu mahasiswa diharap sering menyimak pengumuman di blog saya ini.

    Comments Off on Pengumuman Kosong Kuliah Hari Rabu, 12 Des 2018
  • Assalamu’alaikum, w.w.

    Hari ini saya ada acara di Solo dan Jogja, oleh karena itu perkuliahan makul yang saya ampu pada hari ini Jumat, 30 Nov 2018 ditiadakan.
    Demikian semoga menjadikan maklum adanya.

    Wassalam

    Dosen Pengampu
    Achmad Maimun

    Comments Off on Pengumuman Libur Kuliah, Jumat 30 Nov 2018
  • Sehubungan dengan kegiatan Workshop yang harus saya ikuti sejak hari Jum’at dan Sabtu, 16 sd. 17 November 2018, maka perkuliahan mata kuliah yang saya ampu pada hari dan tanggal tersebut diliburkan. Demikian harap maklum adanya

    Comments Off on Pengumuman Libur Kuliah Hari Jumat, 16 November 2018
  • Kepada

    Yth. Mahasiswa yang mengikuti perkuliahan

    mata kuliah yang saya ampu

     

    Assalamu’alaikum, w.w.

    Sehubungan dengan adanya kegiatan yang harus saya ikuti di IAIN Purwokerto sejak dari hari Senin s.d. Rabu, 12 s.d 14 November 2018, maka seluruh perkuliahan untuk mata kuliah yang saya ampu di hari Selasa dan Rabu diliburkan. Sebagai ganti akan kita carikan waktu lain. Demikian semuga maklum adanya.

    Wassalam

     

    Comments Off on Pengumuman Libur Kuliah
  • Musibah atau sering disebut dengan bala’ merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Sejak dari yang musibah ringan seperti terkena duri, sampai yang berat seperti hilangnya nyawa seseorang. Baik yang sifatnya musibah personal/pribadi maupun jama’i atau massal, seperti gempa, banjir, tsunami dan sebagainya. Banyak orang mencoba menjelaskan musibah tersebut dari sudut pandangnya masing-masing, seorang saintis dipastikan menjelaskannya dari sudut pandang akademik-ilmiah, seorang agamawan juga akan menjelaskan dari sudut pandang keimanannya.

     Pada kesempatan ini penulis, akan menjelaskan musibah dari sudut pandang keimanan karena latar belakang keilmuannya adalah keagamaan Islam. Berikut ini adalah penjelasan tentang musibah dalam perspektif ajaran Islam. Penjelasan ini diharapkan bisa menjadi bahan bagi para pembaca tentang musibah dan bagaimana menyikapinya. Perlu disampaikan bahwa tulisan ini disadur dari situs islamweb.

     1.    Musibah sebagai Penebus Kesalahan atau Penghapus  Dosa  (لنكفير الخطايا)

    Musibah adakalanya sebagai penebus dosa atau kesalahan yang telah dilakukan oleh seorang mukmin. Hal itu bisa jadi karena seseorang terlalu banyak melakukan dosa atau kesalahan karena itu perlu dilakukan penghapusan dosa tersebut. Dengan begitu musibah ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada seorang mukmin. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh sebuah hadits Rasulullah berikut ini.

    ما يصيب المسلم من هم، ولا حزن، ولا وصب، ولا نصب، ولا أذى، حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه. رواه مسلم.

    Artinya: Tidaklah sebuah kedukaan, kesedihan, sakit menahun, keletihan, ataupun hal yang merugikan hingga (misalnya) seseorang terkena duri kecuali Allah akan menutup atau menebus kesalahan atau dosa-dosa orang tersebut dengannya.

    Karena itu meskipun musibah membawa kesengsaraan, akan tetapi bagi seorang mukmin sudah sepatutnya untuk tetap bersabar dan bertawakkal kepada Allah, karena pada prinsipnya dengan musibah tersebut Allah sedang melakukan pencucian atau pembersihan terhadap dirinya.

     2.    Musibah sebagai Pembersih Orang Mukmin dan Pembeda antara Orang Mukmin dari Orang Munafiq   (لتمحيص المؤمنين، وتمييزهم عن المنافقين)

    Ada kalanya pula musibah itu terjadi sebagai media untuk membersihkan orang-orang mukmin dari hal-hal yang tidak baik dan juga sebagai pembeda antara orang mukmin dan orang dhalim. Sebagaimana diberitakan oleh berbagai media, ketika musibah datang, misalnya gempa bumi dan tsunami di Palu, betapa banyak orang melakukan penjarahan bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Akan tetapi lebih dari itu didorong oleh kesakrahan, sehingga ada yang mengambil keuntungan dalam suasana yang sulit itu. Ada yang mempreteli asesoris mobil-mobil yang hanyut, ada yang mengambil roda atau ban mobil dan sebagainya. Itulah perilaku orang-orang dhalim yang berbeda dengan orang mukmin. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam ayat al-Qur’an berikut ini.

    قال تعالى: أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ* وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ [العنكبوت:3]

    Artinya: apakah para manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja untuk mengatakan: ”kami telah beriman” dan kemudian mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta.

    Dengan musibah yang mengenai manusia, maka akan tampak keaslian karakter mereka. Mana yang benar-benar beriman dengan tulus dan mana yang sejatinya adalah orang munafiq. Hanya sayangnya, orang-orang munafiq tidak pernah menyadari akan kemunafikan dirinya. Na’udzubillaahi min dzaalik.

     3.    Musibah sebagai Media untuk Meningkatkan Derajat atau Kualitas Seseorang

    Bagaikan orang yang sedang menempuh pendidikan, untuk naik peringkat atau kelas dia harus mengikuti ujian yang semakin tinggi tingkatannya semakin berat ujiannya. Demikian pula, musibah yang menimpa seseorang adakalanya berfungsi sebagai media untuk menguji seseorang agar meningkat peringkatnya, meningkat derajat ketaqwaannya, meningkat kualitas kepribadiannya dan sebagainya. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah, bahwa manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, disusul dengan para penerusnya. Ujian tersebut tidak lain adalah untuk meninggikan derajat mereka. Rasulullah menjelaskan sebagai berikut.

    عن سعد بن أبي وقاص ـ رضي الله عنه ـ قال: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: “الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ” (رواه النسائي

    Artinya: Dari Sa’d bi Abi Waqash dia berkata: ”Saya berkata, wahai Rasulullah, manusia mana yang paling berat ujiannya?”. Rasulullah bersabda: “Para nabi kemudian manusia-manusia pilihan (fudhala’), maka seseorang itu akan diuji (diberi cobaan berupa musibah) seukur dengan agamanya. Jika seseorang TEGUH beragama maka ujiannya akan menjadi berat, dan jika seseorang LEMAH dalam beragama maka dia akan diuji sesuai dengan kadar keagamannya itu…)

     4.    Musibah sebagai Pemberian Sanksi karena Dosa  

    Selanjutnya dalam perspektif Islam, musibah adakalany turun kepada manusia mukmin sebagai sanksi atas dosa yang dilakukkannya. Rasulullah pernah menjelaskan sebagai berikut:

    إن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه، ولا يرد القدر إلا الدعاء، ولا يزيد العمر إلا البر. رواه أحمد

    Artinya:   Sesungguhnya rezeki seseorang terhalangi oleh perbuatan dosanya, dan takdir Allah itu tidak pernah akan tertolak kecuali dengan do’a, dan umur (seseorang) tidak akan bertambah kecuali dengan (melakukan) kebaikan.

     Di dalam surat al-Baqarah ayat 155 dijelaskan bahwa bentuk musibah itu sangat beragam, ada yang berupa rasa takut, kelaparan, berkurangnya harta, meninggalnya sanak saudara, dan juga yang berbentuk berkurangnya atau hangusnya buah-buahan atau hasil bumi. Perlu diketahui bahwa kenyang, hilangnya rasa takut, harta, utuhnya sanak saudara dan sebagainya itu adalah rezeki dari Allah. Hal-hal itu semua atau rezeki-rezeki itu akan terhalang karena perbuatan dosa seserorang, sebagai sebuah sanksi dari Allah.

    Jika hal itu yang terjadi maka sebagai seorang mukmin kita harus banyak bermuhasabah, beristighfar baik secara individual maupun jama’i sebagai sebuah bangsa, agar musibah tidak selalu datang bertubi-tubi silih berganti kepada bangsa kita seperti saat ini.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menjelaskan bahwa;   

    الدعاء سبب يدفع البلاء، فإذا كان أقوى منه دفعه، وإذا كان سبب البلاء أقوى لم يدفعه، لكن يخففه ويضعفه

    Artinya: Doa itu menjadi sebab tertolaknya musibah, jika kekuatan doa lebih besar dari dahsyatnya musibah, maka doa tersebut akan mampu menolaknya. Jika sebabnya musibah lebih kuat dari doa yang dipanjatkan maka doa tersebut tidak akan dapat menolaknya, akan tetapi hanya akan memperingan dan melemahkan musibah tersebut.

    Karena itu marilah kita perbanyak berbuat baik, menghidari sejauh mungkin perbuatan jelek dan munkar, dan tidak lupa mau mengingatkan sesama untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan agar kita terhindar dari musibah yang tidak kita kehendaki bersama.

     

    Comments Off on Musibah dalam Perspektif Islam