ACHMAD MAIMUN

SALING BERSILATURRAHMI DAN MENASEHATI

  • Kepada
    Yth. Mahasiswa PKKI yang mengambil Makul PKN

    Assalamu’alaikum w.w.

    Untuk Ujian Akhir Semester Mata Kuliah PKN Program Kelas Khusus Internasional, mahasiswa diwajibkan membuat paper dengan mengambil tema tentang problematika kebangsaan Indonesia. Struktur pembahasan paper sebagai berikut:

    A. Problematika
    Uraikan latar belakang problemnya, ada baiknya didukung data di lapangan, kemudian rumuskan problematikanya apa
    B. Analisis Faktor-faktor Penyebab
    Uraikan penyebab yang menjadikan problematika tersebut muncul. Jangan lupa sertakan referensi pendukungnya
    C. Tawaran Solusi
    Temukan solusi dari problematika tersebut, akan lebih baik jika mahasiswa mendukung tawawan solusinya dengan mengemukakan teori yang sesuai.
    D. Simpulan

    Masing-masing huruf tersebut di atas bisa diuraikan menjadi beberapa sub, sesuai dengan pemikiran mahasiswa.
    Jangan lupa ditulis dengan bahasa Inggris atau Arab. dikumpulkan paling lambat tanggal 27 Desember 2018 di meja depan ruang kerja saya.
    Demikian terima kasih
    Wassalam

    NB. Kuliah besuk pagi Selasa, 18 Des 2018 ditiadakan

    No Comments
  • Kepada
    Yth. Mahasiswa yang ikut Makul Etika Profesi Keguruan
    dan Pengembangan Tafsir Tarbawiy dengan Dosen Achmad Maimun

    Assalamu’alaikum w.w.
    Sehubungan dengan Pelaksanaan Ujian Akhir Semester mata kuliah Etika Profesi Keguruan dan Pengembangan Tafsir Tarbawiy, berikut ini saya sampaikan Jadwal Pelaksanaan UAS dimaksud:
    1. Makul Etika Profesi Keguruan Kelas K, dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Des 2018 pukul 07.00 s.d 08.40
    2. Makul Etika Profesi Keguruan Kelas J, dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Des 2018 pukul 08.40 s.d 10.20
    3. Makul Etika Profesi Keguruan Kelas L, dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Des 2018 pukul 10.20 s.d 11.45
    4. Makul Etika Profesi Keguruan Kelas I, dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Des 2018 pukul 12.20 s.d 14.20
    5. Makul Pengembangan Tafsir Tarbawiy Kelas A, dilaksanakan pada hari Jumat, 28 Des 2018 pukul 07 s.d 08.40
    6. Makul Pengembangan Tafsir Tarbawiy Kelas B, dilaksanakan pada hari Jumat, 28 Des 2018 pukul 08.40 s.d 10.20
    untuk UAS Etika Profesi Perkuliahan mahasiswa dipersilakan memilih 5 materi untuk dikuasai kemudian diuraikan di saat Pelaksanaan Ujian. Uraiannya secara lengkap dan detail. Sedangkan untuk Makul Pengembangan Tafsir Tarbawiy, UAS nya mahasiswa bisa memilih 4 materi yang telah dibahas untuk kemudian diuraikan sendiri di dalam Ujian, secara lengkap dan detail.

    Demikian pemberitahuan Ujian ini semuga menjadikan maklum adanya.
    Wassalam

    No Comments
  • Diberitahukan kepada mahasiswa yang mengikuti perkuliahan yang saya ampu pada hari Rabu, 12 Des 2018, bahwa seluruh perkuliahan pada hari tersebut ditiadakan. Karena saya ada acara menghadiri ujian promosi doktor Bpk. Drs. A. Bahrudin, M.Ag. di UIN Sunanan Kalijaga Yogyakarta.
    Demikian pengumuman ini semoga menjadi maklum adanya.

    NB. Untuk UAS mata kuliah saya, akan saya informasikan melalui blog ini juga. Oleh karena itu mahasiswa diharap sering menyimak pengumuman di blog saya ini.

    No Comments
  • Assalamu’alaikum, w.w.

    Hari ini saya ada acara di Solo dan Jogja, oleh karena itu perkuliahan makul yang saya ampu pada hari ini Jumat, 30 Nov 2018 ditiadakan.
    Demikian semoga menjadikan maklum adanya.

    Wassalam

    Dosen Pengampu
    Achmad Maimun

    No Comments
  • Sehubungan dengan kegiatan Workshop yang harus saya ikuti sejak hari Jum’at dan Sabtu, 16 sd. 17 November 2018, maka perkuliahan mata kuliah yang saya ampu pada hari dan tanggal tersebut diliburkan. Demikian harap maklum adanya

    No Comments
  • Kepada

    Yth. Mahasiswa yang mengikuti perkuliahan

    mata kuliah yang saya ampu

     

    Assalamu’alaikum, w.w.

    Sehubungan dengan adanya kegiatan yang harus saya ikuti di IAIN Purwokerto sejak dari hari Senin s.d. Rabu, 12 s.d 14 November 2018, maka seluruh perkuliahan untuk mata kuliah yang saya ampu di hari Selasa dan Rabu diliburkan. Sebagai ganti akan kita carikan waktu lain. Demikian semuga maklum adanya.

    Wassalam

     

    No Comments
  • Musibah atau sering disebut dengan bala’ merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Sejak dari yang musibah ringan seperti terkena duri, sampai yang berat seperti hilangnya nyawa seseorang. Baik yang sifatnya musibah personal/pribadi maupun jama’i atau massal, seperti gempa, banjir, tsunami dan sebagainya. Banyak orang mencoba menjelaskan musibah tersebut dari sudut pandangnya masing-masing, seorang saintis dipastikan menjelaskannya dari sudut pandang akademik-ilmiah, seorang agamawan juga akan menjelaskan dari sudut pandang keimanannya.

     Pada kesempatan ini penulis, akan menjelaskan musibah dari sudut pandang keimanan karena latar belakang keilmuannya adalah keagamaan Islam. Berikut ini adalah penjelasan tentang musibah dalam perspektif ajaran Islam. Penjelasan ini diharapkan bisa menjadi bahan bagi para pembaca tentang musibah dan bagaimana menyikapinya. Perlu disampaikan bahwa tulisan ini disadur dari situs islamweb.

     1.    Musibah sebagai Penebus Kesalahan atau Penghapus  Dosa  (لنكفير الخطايا)

    Musibah adakalanya sebagai penebus dosa atau kesalahan yang telah dilakukan oleh seorang mukmin. Hal itu bisa jadi karena seseorang terlalu banyak melakukan dosa atau kesalahan karena itu perlu dilakukan penghapusan dosa tersebut. Dengan begitu musibah ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada seorang mukmin. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh sebuah hadits Rasulullah berikut ini.

    ما يصيب المسلم من هم، ولا حزن، ولا وصب، ولا نصب، ولا أذى، حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه. رواه مسلم.

    Artinya: Tidaklah sebuah kedukaan, kesedihan, sakit menahun, keletihan, ataupun hal yang merugikan hingga (misalnya) seseorang terkena duri kecuali Allah akan menutup atau menebus kesalahan atau dosa-dosa orang tersebut dengannya.

    Karena itu meskipun musibah membawa kesengsaraan, akan tetapi bagi seorang mukmin sudah sepatutnya untuk tetap bersabar dan bertawakkal kepada Allah, karena pada prinsipnya dengan musibah tersebut Allah sedang melakukan pencucian atau pembersihan terhadap dirinya.

     2.    Musibah sebagai Pembersih Orang Mukmin dan Pembeda antara Orang Mukmin dari Orang Munafiq   (لتمحيص المؤمنين، وتمييزهم عن المنافقين)

    Ada kalanya pula musibah itu terjadi sebagai media untuk membersihkan orang-orang mukmin dari hal-hal yang tidak baik dan juga sebagai pembeda antara orang mukmin dan orang dhalim. Sebagaimana diberitakan oleh berbagai media, ketika musibah datang, misalnya gempa bumi dan tsunami di Palu, betapa banyak orang melakukan penjarahan bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Akan tetapi lebih dari itu didorong oleh kesakrahan, sehingga ada yang mengambil keuntungan dalam suasana yang sulit itu. Ada yang mempreteli asesoris mobil-mobil yang hanyut, ada yang mengambil roda atau ban mobil dan sebagainya. Itulah perilaku orang-orang dhalim yang berbeda dengan orang mukmin. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam ayat al-Qur’an berikut ini.

    قال تعالى: أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ* وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ [العنكبوت:3]

    Artinya: apakah para manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja untuk mengatakan: ”kami telah beriman” dan kemudian mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta.

    Dengan musibah yang mengenai manusia, maka akan tampak keaslian karakter mereka. Mana yang benar-benar beriman dengan tulus dan mana yang sejatinya adalah orang munafiq. Hanya sayangnya, orang-orang munafiq tidak pernah menyadari akan kemunafikan dirinya. Na’udzubillaahi min dzaalik.

     3.    Musibah sebagai Media untuk Meningkatkan Derajat atau Kualitas Seseorang

    Bagaikan orang yang sedang menempuh pendidikan, untuk naik peringkat atau kelas dia harus mengikuti ujian yang semakin tinggi tingkatannya semakin berat ujiannya. Demikian pula, musibah yang menimpa seseorang adakalanya berfungsi sebagai media untuk menguji seseorang agar meningkat peringkatnya, meningkat derajat ketaqwaannya, meningkat kualitas kepribadiannya dan sebagainya. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah, bahwa manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, disusul dengan para penerusnya. Ujian tersebut tidak lain adalah untuk meninggikan derajat mereka. Rasulullah menjelaskan sebagai berikut.

    عن سعد بن أبي وقاص ـ رضي الله عنه ـ قال: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: “الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ” (رواه النسائي

    Artinya: Dari Sa’d bi Abi Waqash dia berkata: ”Saya berkata, wahai Rasulullah, manusia mana yang paling berat ujiannya?”. Rasulullah bersabda: “Para nabi kemudian manusia-manusia pilihan (fudhala’), maka seseorang itu akan diuji (diberi cobaan berupa musibah) seukur dengan agamanya. Jika seseorang TEGUH beragama maka ujiannya akan menjadi berat, dan jika seseorang LEMAH dalam beragama maka dia akan diuji sesuai dengan kadar keagamannya itu…)

     4.    Musibah sebagai Pemberian Sanksi karena Dosa  

    Selanjutnya dalam perspektif Islam, musibah adakalany turun kepada manusia mukmin sebagai sanksi atas dosa yang dilakukkannya. Rasulullah pernah menjelaskan sebagai berikut:

    إن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه، ولا يرد القدر إلا الدعاء، ولا يزيد العمر إلا البر. رواه أحمد

    Artinya:   Sesungguhnya rezeki seseorang terhalangi oleh perbuatan dosanya, dan takdir Allah itu tidak pernah akan tertolak kecuali dengan do’a, dan umur (seseorang) tidak akan bertambah kecuali dengan (melakukan) kebaikan.

     Di dalam surat al-Baqarah ayat 155 dijelaskan bahwa bentuk musibah itu sangat beragam, ada yang berupa rasa takut, kelaparan, berkurangnya harta, meninggalnya sanak saudara, dan juga yang berbentuk berkurangnya atau hangusnya buah-buahan atau hasil bumi. Perlu diketahui bahwa kenyang, hilangnya rasa takut, harta, utuhnya sanak saudara dan sebagainya itu adalah rezeki dari Allah. Hal-hal itu semua atau rezeki-rezeki itu akan terhalang karena perbuatan dosa seserorang, sebagai sebuah sanksi dari Allah.

    Jika hal itu yang terjadi maka sebagai seorang mukmin kita harus banyak bermuhasabah, beristighfar baik secara individual maupun jama’i sebagai sebuah bangsa, agar musibah tidak selalu datang bertubi-tubi silih berganti kepada bangsa kita seperti saat ini.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menjelaskan bahwa;   

    الدعاء سبب يدفع البلاء، فإذا كان أقوى منه دفعه، وإذا كان سبب البلاء أقوى لم يدفعه، لكن يخففه ويضعفه

    Artinya: Doa itu menjadi sebab tertolaknya musibah, jika kekuatan doa lebih besar dari dahsyatnya musibah, maka doa tersebut akan mampu menolaknya. Jika sebabnya musibah lebih kuat dari doa yang dipanjatkan maka doa tersebut tidak akan dapat menolaknya, akan tetapi hanya akan memperingan dan melemahkan musibah tersebut.

    Karena itu marilah kita perbanyak berbuat baik, menghidari sejauh mungkin perbuatan jelek dan munkar, dan tidak lupa mau mengingatkan sesama untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan agar kita terhindar dari musibah yang tidak kita kehendaki bersama.

     

    No Comments
  • Sebenarnya tulisan ini adalah dialog imajiner diri saya, atau boleh juga disebut sebagai sebuah refleksi setelah saya pulang dari mendampingi jamaah haji tahun 2018. Kebetulan pas sejak saya masih di Makkah dan kemudian setelah pulang ke tanah air, negeri kita tercinta Indonesia bertubi-tubi dilanda banyak bencana yang menyengsarakan banyak orang. Ada gempa di Lombok, ada Gempa, Tsunami dan Likuifasi di Palu, Sigi dan Donggala, gempa lagi di Situbondo, Banjir Bandang di Mandailing Natal dan sebagainya.

    Refleksi saya kira-kira begini, negeri kita tercinta Indonesia ini kaya dengan sumber alam, air melimpah, tanaman dan tetumbuhan apa saja bisa hidup, bahkan tongkat dan kayu bisa jadi tanaman, seperti lagunya Koes Plus. Akan tetapi mengapa negeri yang begitu kaya dengan segala hal ini, kurang mendatangkan berkah bagi penduduknya. Ini bisa dilihat misalnya, kekayaan sumber daya alam yang begitu melimpah akan tetapi penduduknya banyak yang hidup dalam kekurangan, banyak sekali anak-anak jalanan dan pengemis di jalan-jalan, anak-anak Yatim belum banyak yang terurus, baik oleh negara maupun oleh masyarakat. Selain itu, misalnya sebagaimana telah saya singgung di atas, ada gempa, tsunami, banjir, tanah longsor, kekeringan dan sebagainya. Ini tentu saja harus dipahami dari sudut pandang keimanan bukan akademik ilmiah. Karena dilihat dari sudut pandang keimanan, maka apa saja dilihatnya dengan dan terbawa-bawa oleh sudut pandang iman.

    Saya tidak tahu mengapa dialog imajiner saya itu mengarahkan dan mengerucut pada perilaku-perilaku dosa seperti bangsa dan pemimpin pemerintahan di negeri ini. Seperti korupsi, suap-menyuap dan perilaku-perilaku dosa lainnya. Selain itu, saya juga tidak tahu mengapa dialog imajiner saya mengarah pula pada perilaku mubadzir penduduk negeri ini. Apa itu? Kebiasaan merokok.

    Jika saya bandingkan dengan beberapa negara yang pernah saya kunjungi, kebiasaan mubadzir melalui aktivitas merokok ini tampaknya penduduk Indonesia menempati urutan pertama dalam hal mubadzirnya. Saya pernah ke Malaysia, Singaopore, Sabah, Myanmar, China, Vienna, dan Saudi Arabia, di negara-negara tersebut kegiatan mubadzir merokok itu ada, tapi tidak seheboh di Indonesia. Apalagi di kota Makkah dan Madinah, amat sangat jarang sekali kita bisa ketemu orang merokok, kalau toh ketemu orang merokok, bisa jadi tiga hari sekali pun tidak banyak. Hal ini beda dengan penduduk kita Indonesia, hampir tidak ada tempat yang sepi dari aktivitas merokok, di terminal, di sekolah, di jalan-jalan, di poskamling, di toilet bahkan di masjid sekalipun banyak orang merokok. Sebelum dilanjutkan, dialog imajiner ini tidak menyoal hukum rokok halal apa haram, karena memang tidak ada dalil yang secara tegas menyebut rokok itu haram apa halal, dan juga tidak dalam rangka mendiskreditkan orang merokok. Jadi terlepas dari itu semua, dan ini juga tidak untuk bahan debat, wong namanya juga refleksi hanya dialog imajiner saja. Tidak tahu kenapa, saya kemudian mencoba menghitung-hitung uang yang mubadzir dibakar dalam bentuk rokok itu. Saya mulai menghitung dalam dialog imajiner itu yakni perokok di kampus.

    Ambil contoh umpama di suatu kampus yang tidak besar, dengan jumlah mahasiswa kira-kira 12 ribuan mahasiswa. Yang merokok biasanya laki-laki baik mahasiswa maupun dosen dan karyawan. Taruhlah jumlah mahasiswa laki-laki 4000 orang, dan yang merokok 1500 orang sudah dengan dosen dan karyawannya. Taruhlah 1500 orang tersebut setiap hari hanya merokok 1 batang saja, maka ada 1500 batang rokok yang dibakar. Jika hara rokok 1 batang Rp. 1500 maka setiap harinya uang yang dibakar sebesar kurang lebih 2.250.000,-, dua juta dua ratus lima puluh ribu rupiah setiap hari dibakar di kampus. Kalau kita kalikan 30 hari untuk setiap bulannya, maka ada Rp. 67.500.000,- uang yang dibakar. Wow…uang yang sangat besar sekali, itu baru dari satu kampus kecil. Bagaimana kalau hitungan itu diterapkan untuk satu kota, satu propinsi dan satu negara Indonesia tercinta ini. Ruarrr biasa besar uang yang dibakar mubadzir.

    Masalahnya begini, kebetulan walaupun kecil-kecilan saya dan teman-teman dikampung itu tiap bulan mengadakan kumpulan dalam rangka mengumpulkan donasi untuk anak-anak yatim di desa saya Sruwen dan sekitarnya. Jumlah anak yatim di desa saya itu kurang lebih, ada 60 sd 70 orang, tapi kami pengurus baru bisa memberi uang jajan kepada 33 anak yatim itupun tidak banyak, hanya 100 ribu rupiah per bulan per anak. Jadi tiap bulan kami para pengurus harus mengumpulkan uang dari masyarakat kurang lebih 3 sd 4 juta. Selain itu kami juga membeli sawah khusus untuk anak-anak yatim. Ada dua petak sudah terbeli seharga kurang lebih 115 juta. Kurang lebih 2.5 tahun kami baru bisa melunasi pembelian sawah tersebut, itupun harus hutang sana dan sini. Sekarang juga sedang beli sawah lagi untuk anak-anak yatim harganya 125 juta, kami para pengurus juga harus hutang ke sana-kemari, dan belum tahu kapan bisa membayar hutang tersebut. Sampai di sini kira-kira sudah bisa dirasakan betapa ada hal yang menjadikan negeri kita kurang berkah.

    Coba kita hitung, jika uang rokok sebulan 67.500.000,- di kampus  tadi dialihkan untuk menyantuni anak-anak yatim, berapa banyak anak yatim tersantuni. Atau jika uang tersebut untuk membayar sawah anak yatim, tidak samapai dua bulan sawah anak yatim akan terbayar lunas. Memang kalau dihitung kadang-kadang membuat sesak di dada mengapa kondisinya bisa begini. Sementara itu, anak-anak yatim hidup serba dalam keterbatasan dan kesulitan yang tidak tahu kapan berakhirnya. akan tetapi di sebelahnya banyak orang yang hanya membakar uangnya menjadi asap yang tiada guna.

    Jika kita kembalikan kepada pesan Islam, innal mubadzdziriina kaanu ikhwanas syayatiin, orang-orang yang memubadzirkan barang itu temannya syaitan. Bagaimana berteman dengan syaitan akan mendatangkan keberkahan? itu di satu sisi, sementara di sisi yang lain betepa banyak anak-anak yatim yang belum terurus oleh kita dan seharusnya bisa diurus dengan uang rokok yang dibakar tadi? Maka di sisi yang lain, bisa masuk dalam penjelasan surat al-Maun.

    Akhirnya dialog imajiner saya ini berakhir dengan simpulan yang tidak mengenakkan, jika kondisi perilaku mubadzir ini masih terus berjalan, sementara itu anak-anak Yatim masih belum terurus dengan baik, saya meyakini  selama itu pula keberkahan tampaknya tidak turun ke penduduk negeri ini. Apalagi jika kita lihat perilaku-perilaku dosa seperti korupsi, suap menyuap masih subur di negeri ini.

    Wallahul musta’aan…

    No Comments
  • Imam al-Gazali yang dikenal sebagai hujjatul Islam, pernah membahas tentang apakah akhlaq manusia bisa berubah Misalnya dari yang berakhlaq mazmumah menjadi berakhlak karimah atau sebaliknya. Menurut beliau akhlaq manusia itu bisa berubah dari yang baik menjadi buruk atau sebaliknya. Berkenaan dengan hal itu, Hujjatul Islam Imam Gazali menjelaskan bahwa manusia dilihat dari bisa atau tidaknya diupayakan untuk berubah dari tidak baik menjadi baik, menjadi beberapa jenis manusia. Ringkasannya kurang lebih sebagai berikut:
    1. جاهل orang bodoh. Yakni Manusia yang lalai, yang tidak tahu akan hal baik dan buruk, yang haq dan yang batil. Manusia tipe pertama ini masih sangat mungkin untuk bias menjadi baik. Karena kejelekan dan ketersesatannya hanya karena ketidaktahuannya saja.
    الانسن الغفل الذي لا يعرف الحق من الباطل والجمميل من القابح
    2. جاهل و ضال orang jahil atau bodoh dan tersesat. Yakni manusia yang mengetahui baik dan buruk, hak dan batal akan tetapi tidak membiasakan diri dengan perbuatan baik, justru membiasakan diri dengan perbuatan jelek. Tipe ini juga masih dimungkinkan untuk berubah, meskipun lebih sulit dari yang pertama.
    الانسان الذي قد عرف القابح ولكنه لم يتعود العمل الصالح
    3. جاهل ضال فاسق, jahil atua bodoh, dhal atau tersesat dan fasik atau rusak. Yakni manusia yang memiliki keyakinan bahwa bahwa yang jelek itu sebagai sesuatu yang benar dan baik. Tipe ketiga ini tidak banyak diharapkan perubahannya menjadi baik.
    الانسان الذي يعتقد ان القبيح حق وجميل
    4. جاهل ضال فاسق وشرير . Jahil, dhal, fasiq dan syarir, yakni bodoh, tersesat, rusak dan jelek sekali. Yakni Manusia yang memandang bahwa kejelekan yang dilakukan itu bukan hanya dipandang baik akan tetapi kejelekan yang dilakukannya itu justru akan menjadikannya terhormat. Tipe keempat ini bisa dikatakan tidak akan berubah, karena sudah saking kronisnya keadaan jiwanya, maksiat dan kejelekan menurut ajaran Islam justru sudah dianggap hal yang menjadikannya mulia.
    Barangkali orang-orang yang meyakini bahwa Lesbian, Gay, Bisex dan Transjender (LGBT) adalah hak manusia yang perlu diperjuangkan dan dibela, dan tidak perlu didiskriminasikan adalah masuk kelompok ke empat ini. Para pelakunya atau orang-orang yang sepaham dengan para pelakunya itu, dapat dikategorikan sebagai orang-orang dikelompk keempat ini. Kelompok ini sudah sulit sekali untuk berubah pemikiran dan keyakinannya. Karena itu menghadapi orang dengan model keyakinan semacam itu, tidak perlu berdebat dan dialog karena tidak akan ada perubahan.
    Terakhir, harapannya semoga tulisan kecil ini bermanfaat bagi siding pembaca dan menjadi amal bagi penulis. Silakan mengutip tulisan saya jika diperlukan, agar lebih banyak memberikan manfaat.

    No Comments
  • Satu hal penting yang menjadikan amal kita diterima oleh Allah adalah ikhlas. Ikhlas itu suatu keadaan jiwa kita yang tidak bisa diketahui oleh siapa saja kecuali oleh diri kita sendiri dan Allah swt. Kalau pun ada orang yang mengatakan bahwa ada seseorang yang tampak ikhlas dan ada yang lainnya tammpak tidak ikhlas, itu hanya gejala-gejala dan perilaku yang dapat diamati saja, atau gejala lahiriyahnya saja. Akan tetapi hakikatnya tidak ada yang tahu hakikat keikhlasan orang lain yang tahu adalah diri kita sendiri dan Allah saja. Untuk mengidentifikasi apakah kita ini termasuk orang yang ikhlas atau tidak, para ulama memberikan penjelasan tentang indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengenali apakah kita ini ikhlas atau tidak. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
    ان يكون عملك في السر كما في العلانية
    عدم ازدياد العمل بالثناء وعدم نقصانه بالذم
    حينما تكون مخلصا فعملك الذي يرفع الي الله يعود ثوابه سكينة في قلبك
    Maksudnya:
    Jika kamu beramal ketika sendirian sama dengan ketika di hadapan banyak orang
    Ketika kamu dipuji karena amal kebaikanmu, maka hal itu tidak menambah giat dalam beramal, demikian pula ketika dicela, celaan itu tidak akan mengurangi amalan kamu
    Ketika kamu menjadi seorang yang ikhlas maka amal kamu akan dinaikkan kepada Allah, dan pahalanya akan kembali kepadamu menjadi sebuah ketenangan di dalam kalbu.

    Ketiga indikator di atas cukup kita jadikan tolok ukur apakah kita sebagai orang yang mukhlis atau sebaliknya, ahlur riya’. Semoga bermanfaat, dan bagi yang akan mengutip dipersilakan.

    No Comments